Posts tagged PRVaganza
“Keberhasilan Bukanlah Keberuntungan, Melainkan Kemauan”
Mar 14th
Oleh: Arshindy Amaliza Nuradi
Suasana tegang saat pengumuman pemenang. Ketika Unpad disebut sebagai juara 1, berbagai ungkapan kebahagiaan yang mengharukan tertuang di ruangan itu. Seperti itulah yang dapat digambarkan saat pengumuman pemenang kompetisi PR Vaganza di Universitas Indonesia dalam “Pekan Komunikasi Universitas Indonesia 2011” yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi UI (HMIK UI), Selasa (8/11) lalu. Teriakan nama Humas Fikom Unpad terdengar keras diruangan itu. Tangis kebahagiaan juga tidak terbendung lagi. Merekalah Ari Gumilar Akbar, Deddy Poernama Shakti, dan Pristie Aprilla Putri, keluarga baru Hima Humas angkatan 2009 yang telah mengharumkan nama Fikom Unpad Jurusan Ilmu Hubungan Masyarakat.
Awalnya, mereka tidak begitu serius untuk mengikuti kompetisi ini. Mereka hanya melakukan persiapan dengan persentasi dan screening dengan Bapak Anwar Sani dan Bapak Fx. Ari Agung Prastowo. Selain itu, tidak ada persiapan khusus yang mereka lakukan. Humas mengirimkan lima tim untuk mengikuti kompetisi ini. Setelah seleksi tahap pertama, terpilihlah dua tim yang lolos ke 15 besar dan berangkat ke UI. Namun tim Ari, Deddy, dan Pristie inilah yang masuk ke babak final di lima besar dan menjadi juara 1.
Pada seleksi awal, mereka membuat proposal “Crisis Management : Social Media Disaster”. Mereka mengangkat kasus Ariel-Peterpan yang sempat heboh di twitter. Proposal inilah yang membawa mereka ke 15 besar dan megikuti seleksi berikutnya di UI. Pada seleksi berikutnya, lima belas semifinalis diberikan satu kasus untuk diselesaikan. Waktu yang diberikan hanya satu jam dan tidak boleh menggunakan gadget, hanya bermodalkan satu kertas data yang diberikan panitia. Kasus yang harus diselesaikan adalah mengenai Alanda Kariza, mahasiswi yang menulis curhatan di blog mengenai ibunya yang menjadi terdakwa kasus Bank Century. “Waktu di jurusan, kasus-kasus yang dijadikan latihan justru kasus-kasus lain seperi Bakteri Sakazakii dan PSSI. Kasus mengenai Alanda ini tidak terpikirkan sebelumnya sehingga tidak ada persiapan. Tetapi untungnya kami dapat mengatasinya dengan baik”, jelas Ari.
Program yang mereka buat untuk kasus ini adalah dengan mengadakan acara “Hari untuk Alanda”. Acara yang diadakan di kampus Alanda, Bina Nusantara, bertujuan untuk mengembalikan nama baik Alanda di mata teman-temannya. Dalam acara ini juga mereka menjual balon yang melambangkan keceriaan adik-adik Alanda. Hasil penjualan balon ini bukan untuk Alanda melainkan untuk orang-orang yang memiliki nasib yang sama dengan Alanda. Selain itu juga ada program pengiriman surat “Dari Alanda Untuk Presiden” dan #alandauntukibu sebagai trending topic di twitter. Menurut Bapak Ari Agung, program-program yang mereka buat benar-benar program komunikasi. Peserta lain mengangkat hukum sebagai penyelesaian kasus, hanya tim ini yang mengangkat citra. Tidak hanya itu, program yang mereka buat juga orisinal. Bapak Anwar Sani menambahkan, justru karena Ary, Deddy, dan Pristie masih baru di Humas, pikiran mereka belum terkotak-kotak dengan pemikiran yang konseptual. Sehingga mereka dapat membuat ide-ide yang kreatif. Bukan berarti konsep tidak penting, tetapi ini yang mungkin menjadi pertimbangan juri menjadikan mereka sebagai juara kompetesi ini.
Deddy mengatakan, program-program tersebut mucul begitu saja. Bahkan dana program mereka yang hanya Rp160.000,00 sempat dipermasalahkan juri. “Uangnya hanya untuk keperluan spidol dan lain-lain untuk mencari dukungan bagi Alanda”, katanya. Namun, salah satu dewan juri, Ong Hock Chuan (Technical Advisor Maverick PR Consultant), sempat memuji program mereka. Bahkan mereka mendapat kesempatan untuk magang di Maverick. Hal ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Ari, Deddy, dan Pristie. Sekalipun begitu, Bapak Ari Agung mengatakan, ini juga menjadi masukan tersendiri bagi jurusan dan hima. Bila ada kompetisi serupa, harus ditelaah lebih jauh apakah juri menilai dari segi konseptual atau ide kreatif, sehingga dapat menyusun strategi-strategi yang efektif.
Mereka merupakan peserta termuda dalam kompetisi ini. Lawan-lawannya adalah angkatan 2006 sampai 2008. Dari segi konsep dan metode, mereka mengakui masih banyak kekurangan. Namun mereka tidak takut atau terbebani dan tetap rileks serta optimis. Dari segi manner, mereka yakin yang terbaik. Peserta lain sempat meremehkan mereka. “Mereka bilang PR saat ini tidak hanya mementingkan penampilan. Tapi kami membuktikan bahwa tidak hanya otak yang penting bagi PR, penampilan juga. Kami bersyukur banget dapat pembelajaran ini dari PRO (Public Relation Orientation)”, jelas Ari.
Mereka selalu saling mendukung dan melengkapi satu sama lain. “Aku orangnya panikan, untung saja Ari dan Deddy pembawaannya tenang jadi bisa mengimbangi”, kata Pristie menjelaskan kekompakan mereka. Keberhasilan mereka bukan berarti tanpa hambatan. Hambatan teknis sempat membuat mereka panik, tapi hal itu dapat teratasi karena kerjasama yang baik.
Ari, Deddy, dan Pristie mengatakan, keberhasilan mereka tidak terlepas dari dukungan Jurusan dan Hima Humas. “Terimakasih kepada Pak Ari, Pak Sani, Mas Kiting, Mas Welly, Mbak Edith, Mas Ijo, Mas Ongky, Mas Yusri, Mas Nugi, Mbak Fifie, Mbak Vita, Humas 09 terutama Ariza, Nada, dan Nisa sebagai rekan seperjuangan di UI. Kepada seluruh keluarga besar Humas, terimakasih atas dukungannya”.
Banyak yang mereka dapat dengan mengikuti kompetisi ini. Ada ilmu yang tidak diperoleh di kampus mereka temukan disini. Wawasan mengenai PR jadi lebih terbuka. Mereka juga merasakan suasana menegangkan dalam kompetisi sebagai keasyikan tersendiri. Bahkan, Deddy merasa kurang puas dan ingin merasakan kembali suasana itu. “Dari perasaan gelisah sampai kekeluargaan yang erat, semuanya ada”, katanya. Kemenangan ini menjadi pembuktian diri bagi mereka. Namun, mereka tidak menginginkan terjadi perubahan dalam pribadi masing-masing. “Situasi yang ‘mendadak artis’ seperti ini justru harus membuat kita waspada. Kita tidak boleh sombong dan harus pandai bersyukur, inilah yang sulit. Kita tetap harus menjadi diri sendiri”, jelas Pristie.
Mereka berharap kemenangan ini dapat memotivasi rekan Humas yang lain untuk berani berkompetisi. “Menang itu bukan karena faktor keberuntungan, tapi karena usaha dan kemauan yang kuat”, kata Ari. Mereka juga berharap Hima Humas kelak dapat mengadakan kompetisi serupa.
Bapak Ari dan Bapak Sani yang melihat perkembangan mereka dari awal berpesan, mereka harus membuktikan mereka pantas meraih kemenangan ini. Hal ini juga harus menjadi motivasi bagi mahasiswa yang lain untuk berani berkompetisi. “Semua orang memiliki peluang yang sama, tidak akan ada perlakuan istimewa bila kelak ada kompetisi yang serupa. Semuanya mulai dari nol”, jelas Pak Ari.
DATA DIRI
- Ari Gumilar Akbar
Humas C 2009
Twitter: @ariefison
Facebook: Ari Gumilar Akbar Efison
- Deddy Poernama Shakti
Humas B 2009
Twitter: @deddyps
Facebook: Deddy Poernama Shakti
- Pristie Aprilla Putri
Humas C 2009
Twitter: @pristyyy
Facebook: Pristie Aprilla Putri




