Mubes adalah Akhir dan Awal
“Mubes adalah Akhir, namun Awal untuk Periode Baru”
Oleh : Fadilla R
Tepat tanggal 17 April 2010, 17 orang hebat di Kepengurusan Hima 2009-2010 mempertanggung jawabkan 103 program kerja (proker) Hima Humas selama satu tahun. Bertempat di Ruang Oemi, Musyawarah Besar (Mubes) itu dimulai sekitar pukul 9 malam—mundur 5 jam dari waktu yang dipublikasikan—. Dalam Ruang Oemi, selain angkatan 2006, hadir alumni (diantaranya Rayi& Putra-Kahim&Wakahim 2007-2008, Hafidz&Andes-Kahim&Wakahim 2008-2009), angkatan 2007, dan angkatan 2008 yang sebagian besar adalah panitia Ad Hoc.
Mubes diawali dengan pembacaan tata tertib Mubes oleh panitia Ad Hoc. Setelah itu, dilanjutkan dengan pelaporan program kerja yang sudah terlaksana, dan kemudian sesi tanya jawab. Ketika sesi tanya jawab dimulai, Hafidz meragukan untuk melakukan penilaian terhadap GBHK dalam Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) Hima Humas periode 2009-2010. Keraguan ini muncul karena tidak lengkapnya bukti otentik terlaksananya program kerja yang disertakan dalam LPJ. Namun, Pengurus Inti bersikukuh meneruskan Mubes dengan LPJ apa adanya. Siap dan menerima apapun penilaian untuk proker Hima Humas.
Sesi tanya jawab berlangsung cukup alot. Pertanyaan datang bertubi-tubi dari alumni. Akan tetapi, pertanyaan datang bertubi-tubi hanya dari alumni ini justru memancing reaksi baru dari Hafidz yang memimpin angkatan 2005 untuk walk out dari ruang Mubes. Ongky, sebagai presidium II, sempat menyusul angkatan 2005 dan mencoba menjadi mediator. Ketika Ongky kembali, tanpa angkatan 2005, Ongky menyampaikan alasan walk out-nya angkatan 2005 dari ruang Mubes : kecewa karena betapa pasifnya peserta Mubes yang justru masuk dalam kategori anggota aktif. Rangga, sebagai ketua angkatan 2007 dan ketua Hima terpilih 2010-2011, meningkat emosinya dan menyatakan kekecewaannya, khususnya terhadap angkatan 2007 yang pasif menjadi peserta sidang. Grup-grup berdasar angkatan langsung terbentuk ketika Panitia Inti dipersilahkan untuk meninggalkan ruang tanda selesainya sesi tanya jawab.
Terbentuknya dua grup besar yang berisi angkatan 2007 dan 2008 ini merupakan moment angkatan 2007 dan 2008 untuk menyampaikan alasan mengapa selama menjadi peserta sidang banyak yang memilih pasif. Merasa inferior—minder dengan alumni— dan baru pertama kali mengikuti Mubes hingga bingung harus menjadi pendukung Pengurus Inti atau pengkritik adalah beberapa alasan yang dikemukan. Mendengar itu. Rangga kemudian meminta maaf dan mengoreksi dirinya yang tidak melakukan briefing sebelumnya.
Ternyata, terbentuknya dua grup besar tanpa disuruh ini membuat lega Hafidz. Hafidz kemudian melebur dua grup menjadi satu lingkaran besar dan menerangkan alasan lengkap angkatan 2005 memilih keluar di tengah sesi tanya jawab. Hafidz mengaku bahwa ia dan teman-teman 2005 sangat khawatir dengan kepasifan yang ditemui di sebagian besar angkatan 2007 dan 2008. Kepasifan ini ditakutkan justru menjadi bom waktu Hima Humas untuk mengalami kemunduran sekali lagi. Dulu, Hima Humas sempat vakum karena banyak yang tidak vokal menunjukkan aspirasinya. Ketika akhirnya mulai banyak sosok yang berani mengeluarkan pendapat, berani vokal dengan lantangnya, Hima Humas mengalami kebangkitannya. Kebangkitan ini berbuah pada diakuinya Hima Humas menjadi Himpunan Mahasiswa terbaik se-Fikom Unpad hingga sekarang. Setting walk out sengaja dilakukan untuk memancing reaksi angkatan 2007 dan 2008. Usahanya berhasil. Ketika sesi penilaian proker dimulai, kepasifan itu diganti menjadi lantangnya sebagian besar peserta, salah satunya, ketika berpendapatnya perlu tidaknya penilaian program kerja tidak hanya berdasar kuantitas, tetapi juga kualitas. Azan subuh yang berkumandang menjadi break sesi penilaian proker ini.
Sesi penilaian proker ini diakhiri dengan pemberian nilai 85% lolos dari GBHK. Pemberian nilai ini sudah memperhitungkan aspek kualitas dari proker dan relevansinya untuk pengkategorian proker internal, eksternal, dan alumni. Lalu, acara dilanjutkan dengan pembahasan AD ART, dan kemudian perumusan GBHK untuk periode 2010-2011. Ketika perumusan GBHK inilah suasana Mubes seperti layaknya orang tengah berjual beli. Tawar menawar diajukan antara pengurus inti Hima Humas periode 2009-2010 dengan angkatan 2007 dan 2008. Presidium sering terlihat kewalahan dan berulang kali mendorong untuk terjadi kesepakatan. Rangga sebagai wakil dari kepengurusan Hima Humas periode 2010-2011 sering menolak tawaran yang diajukan oleh Pengurus Inti periode 2009-2010. Rangga menginginkan kualitas yang dikedepankan daripada kuantitas proker. Sekitar pukul 2 siang, barulah perumusan GBHK untuk periode 2010-2011 selesai.
Selesainya perumusan GBHK, selesai pula acara inti dari Mubes. Namun, tidak lantas langsung bubar begitu saja, acara Mubes dilanjutkan dengan apresiasi Manda kepada pengurus inti Hima Humas yang membuat suasana haru tercipta. Beberapa pengurus Inti menitikkan air matanya ketika Manda mengucapkan terimakasih satu per satu kepada rekan kepengurusan periode 2009-2010. Manda juga sempat memetik dan menceritakan kembali moment yang sudah pernah dijalankan bersama-bersama.
Tidak hanya Manda kepada pengurus inti Hima Humas, para Kadiv dan Kabag pun menunjukkan apresiasi mereka dengan membagikan sertifikat kepada anggota divisi atau bagiannya. Setiap Kadiv dan Kabag memanggil satu per satu anggotanya dan menceritakan secuil cerita selama menjalankan proker. Seperti Yogi Ambara yang sempat memanggil Abie dengan anak labil dan kemudian melanjutkan dengan pujian “Proker Hima bisa saja tidak jalan tanpa Abie dan Tesa.”
Haru dan sedih jelas terpancar dari Panitia Inti dan anggota Divisi dan Bagian. Akan tetapi, memang ini yang harus dihadapi. Dimana ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Dimana ada organisasi, pasti ada regenerasi.
Terimakasih dan selamat tinggal. Semoga Hima Humas jaya selalu. Hidup Media! :D
Comments are closed.



