“Bangga dengan PRO ’09 Tapi Tidak Bangga dengan Diri Sendiri”
Public Relations Orientation (PRO) 2009 memang telah usai, namun masih banyak cerita-cerita manis, pahit yang mengekor dibelakangnya. Cerita-cerita, keluh kesah yang selama ini masih disimpan di benak panitia. Fauzan Adhima E.(E), Pramita Ajeng (A), dan Fitriana Yustianti (F) tiga pemimpin puncak PRO 2009 akan bicara blak-blakan tentang susah senang , kendala PRO 2009.
Berikut wawancara Divisi Media dengan tiga sosok yang paling berpengaruh dalam terlaksananya PRO ’09.
Bagaimana prosesnya hingga Efwan (Fauzan A.E.) menjadi Ketua Umum PRO ’09? Kenapa Efwan memilih Ajeng sebagai Ketua I dan Fifie sebagai Ketua II, bukan Rama (Rama Ari Saputra –red) atau Ucup (Yusuf Ramdhani –red) yang juga calon Ketua Umum ketika itu?
E : Awalnya begini, Saya, Rama, dan Ucup membuat kesepakatan. Apabila saya terpilih menjadi ketua umum, Rama menjadi koordinator divisi acara dan Ucup menjadi koordinator divisi audit internal. Apabila Rama yang terpilih, saya di koordinator divisi acara dan Ucup di koordinator divisi internal. Lalu apabila Ucup yang terpilih, saya koordinator audit internal dan Rama koordinator divisi acara.
Untuk staffing, kami bertiga memang memilih Ajeng menjadi Ketua I dan Fifie menjadi Ketua II. Kami memilih Ajeng, karena kami menilai Ajeng paling memahami konsep. Kami rasa Ajeng mampu memberi batasan koridor sejauh mana kreatifitas teman-teman panitia. Sedangkan Fifie, Fifie mampu membuktikan bahwa ia bisa. Fifie bisa memperlihatkan kapabilitasnya. Memang, banyak yang menanyakan kenapa Ketua II perempuan bukan laki-laki. Menurut kami, Fifie mampu menetralisir gesekan-gesekan yang akan terjadi. Karena ranah Ketua II itu kami melihatnya sedikit sensitif, yang bergerak setelah ada hasil dari ranah Ketua I.

Bagaimana tanggapan Ajeng dan Fifie?
A : Menurut saya jabatan Ketua I itu berat. Karena memang sangat konsep. Tadinya saya sempet takut untuk menerima jabatan tersebut. Tapi saya harus percaya sama diri saya sendiri. Orang lain saja percaya dengan saya, masa saya tidak percaya dengan diri sendiri. Saya berterima kasih kepada tiga calon ketua umum yang telah mempecayakan jabatan Ketua I untuk saya.
F : Saya baru mengetahui alasan kenapa saya dipilih menjadi Ketua II. Sebelum nama saya dan Ajeng itu ada, saya memberi masukkan Ketua II itu laki-laki dan non-konseptor. Tapi memang saat itu saya tidak dapat mengajukan satu nama sebagai kandidat terkuat Ketua II. Menjadi Ketua II adalah pengalaman baru. Sebelumnya, saya tidak ngeh kalau ranah Ketua II seteknis ini, selapangan ini. Tapi koordinator-koordinator Ranah II sangat potensial dan ada monitoring juga controlling dari ketua umum, jadi ya.. Alhamdulillah.. (mampu menjalankan –red)
Jabatan Ketua Umum, Ketua I, dan Ketua II itu sebagai kebanggaan atau tantangan?
E : Saya tidak mempunyai keinginan berlebihan untuk menjadi Ketua. Kalau memang saya dirasa pantas, saya terima karena media untuk belajar. Hidup adalah belajar. Dengan menjadi ketua, saya bisa menambah pengalaman, menjadikan media belajar, dan tantangan. Soal kebanggaan itu setelah saya menjalankan. Kebanggaan timbul karena perjuangan dan datang di akhir. Menurut saya jabatan ini tantangan dan tanggung jawab.
Saya bangga dengan kerja keras dan niat teman-teman panitia, Saya bangga dengan acara ini. Tapi dengan diri saya sendiri yang menjadi pemimpin, saya merasa belum bangga. Saya memahami konsep pemimpin, namun saya masih kurang dalam mengaplikasikannya. Saya merasa belum 100%. Saya merasa masih harus belajar lagi. Seperti dalam pengendalian emosi. Ketika saya merasa kesal, saya cenderung diam. Belum mampu menunjukkan wajah sebaliknya.
A : Sama dengan Efwan, menjadi Ketua adalah proses pembelajaran. Saya banyak mendapatkan hal-hal baru dan pengalaman-pengalaman baru. Menurut saya, tantangan dan kemudian kebanggaan. Namun jelas, kebanggaan itu tidak datang tanpa bantuan teman-teman koordinator yang sangat-sangat hebat itu. Saya bangga dengan mereka.
F : Saya sepakat dengan pernyataan kedua kawan saya. Saya sendiri merasa masih jauh dari rasa bangga. Belum ada yang bisa saya banggakan. Mau dilihat subjektif atau objektif, kinerja saya belum optimal. Tetapi saya bangga dengan loyalitas dan pengorbanan panitia.
Apa arti PRO buat kalian?
E : PRO adalah acara yang penuh pengorbanan. Keluarga, teman-teman. saya kehilangan kontak dengan teman-teman di luar sana (di luar panitia PRO’09 –red). Tidak enak rasanya, dan ya itu, dadas (putus –red). Pertama orang yang dadas di konseptor itu saya.
A : PRO’09 menuntut totalitas. Apapun bentuknya, karena PRO’09 menjadi banyak yang dikorbankan. Seperti kuliah lah. Bukan maksud saya mementingkan yang satu lalu yang lainnya dilupakan. Tapi bagaimana yaa.. efek mungkin ya? Sering rapat hingga larut malam atau pagi, kuliah jadi lewat. Dan ya itu tadi, semua ketua mendadak jomblo. Ketiga ketua PRO’09 single.
F : PRO’09 adalah proses aktualisasi diri semua teman-teman angkatan 2007 dari setiap elemen dan aspek 2007.
E : Saya juga melihat PRO ini adalah media untuk menghangatkan suasana dalam angkatan kita.
Saya sangat bangga. Sampai-sampai ada seorang teman yang memang kurang aktif di Hima berterima kasih kepada saya karena telah mengajak ia untuk gabung di kepanitiaan PRO’09. Rasa bangga dan sayangnya kepada Humas kembali. Ini yang membuat saya bangga dengan acara. Acara yang menimbulkan efek seperti ini. PRO media untuk mendekatkan diri karena kita adalah warga humas, satu keluarga, satu ikatan untuk senang bareng, sedih bareng, dan putus bareng. Hahaha…
A : Sama seperti goals acara ini ya, Wan? Solidaritas..
F : Sebenarnya ada misi terselubung dari Efwan kenapa panitia inti 7 adalah wanita semua.
Bagaimana perjalanan PRO’09?
F : Ranah Ketua II banyak sekali jobdesknya. Kadieu kaditu sekali. Mobilitas tinggi. Seperti masalah pemadaman listrik, PLN tidak dapat dihubungi melalui telepon. Harus membawa suratnya langsung ke PLN Tanjungsari untuk meminta pengecualian pemadaman listrik. Saya menjadi akrab dengan satpam, bagian pengadaan, dan lain-lain. Semua menjadi direpotkan saya. Peralatan seperti mike dan infocus modal meminjam UKM atau hima-hima yang lain.
A : Perjalanan dari konseptor merupakan perjuangan. Bagaimana menghadapi perdebatan panjang, gesekan antar konseptor karena belasan orang banyak otak banyak pendapat, jarang mandi, jarang pulang ke kosan, rapat dari jam 7 malam hingga 7 pagi atau 9 pagi, itu seperti sudah makanan sehari-sehari. Hidup jadi tidak teratur.
Masuk Road to PRO, ranah Ketua I menjalankan apa yang sudah dikonsepkan. Seperti kumpul akrab. Di PRO juga begitu. Orang-orang di ranah ketua I berangkat dari konseptor yang banyak ide. Tapi di dalam teknisnya, banyak ide baru yang bermunculan, jadi terkadang sering keluar jalur saking kreatifnya mereka. Konflik-konflik berpusat pada perbedaan pendapat saja. Namun hal itu dapat diatasi.
E : Ketika konseptor membuat konsep dalam keadaan menerka-nerka. Teman-teman panitia dituntut pandai membaca situasi dan keadaan dalam mengambil kebijakan. Dalam perjalanannya, banyak kebijakan-kebijakan baru yang disesuaikan dengan keadaan.
Ada masalah dengan dosen di perjalanan PRO?
A : Iya, itu mengenai perijinan penangguhan kuliah selama seminggu ketika PRO yang sangat repot. Sebenarnya, dosen-dosen muda tidak terlalu bermasalah untuk penangguhan kuliah. Masalah muncul dari Bu Trie. Sempet sharing juga dengan Pak Ari. Alhamdulillah sie, Pak Ari mau membantu mengenai penangguhan perkuliahan itu. Namun tetap saja, Senin kami tidak mendapat ijin dan Jumat pun hanya boleh mengambil satu perijinan mata kuliah.
E : Ah, ya. Cerita soal mengejar PD I. Ketika melobby Bu Susan, Bu Susan mengeluarkan statement kalau PD I oke dengan PRO, jurusan pun Oke. Oleh karena itu, kami semua membuat strategi bagaimana tujuan kami tercapai. Surat yang dibutuhkan selesai dibuat. Lalu kami memasukkan surat tersebut ke PD III dalam bentuk tembusan ke PD I,
Kami mengalami kejadian yang lucu juga.
Kami sudah membuat janji dengan Prof. Nina. Namun, surat ada di mobil. Mobilnya memang di Jatinangor. Tapi kunci mobilnya terbawa ke Jakarta. Yah, itu memang salah kami. Kami meminta ijin Prof Nina untuk membuat janji lagi. Nah, karena kami sering begadang dan bangun siang, kami terlambat bertemu Prof. Nina. Prof. Nina sudah tidak di Jatinangor lagi, melainkan di Bandung. Kami lalu menyusul ke Dago. Namun, Prof. Nina sudah ada di Dipati Ukur karena kami telat sampainya. Kami lalu membuat janji lagi. Prof. Nina meminta kami untuk bertemu di Wisma Unpad saja. Setelah sampai di sana, Prof. Nina sudah pergi lagi. Kami menyusul ke rumah Prof. Nina. Kami akhirnya bertemu Bu Nina dan mengobrol panjang. Hal yang membanggakan di situ, Alhamdulillah kami bisa melobby Prof. Nina untuk mendapatkan ijin peserta juga panitia dalam penangguhan kuliah. Setelah mendapat ijin dari Bu Nina, dimasukkan ke SBA, SBA mengeluarkan surat untuk dosen-dosen, lalu ke Bu Nina lagi. Surat dapet, lalu disebarkan.
Lalu, apakah masih mendapat protes dari jurusan?
E : Masih, ketika Bu Susan ingin menyelenggarakan stadium general. Bu Susan tidak dapat membatalkan stadium general karena sudah terlanjur janji. Ijin pun keluarnya telat. Wajar kalau begitu. Akhirnya kami panitia berpikiri untuk mensiasati itu, menjadi agenda PRO’09.
Di PRO’09 ini, logo Maroon Associate dan bahan jaket berbeda dengan tahun lalu.
F : Mengenai logo, logo Maroon Associate itu dirasa teman-teman Divisi Publikasi dan Dokumentasi perlu diperbaharui. Dari niat baik teman-teman yang sangat inisiatif, kreatif, dan inovatif yaitu untuk memperbaharui logo agar eye catching dan menarik, teman-teman divisi Publikasi dan Dokumentasi membuat beberapa rancangan logo baru. Saya lalu memilih salah satunya. Logo tersebut ditindak lanjuti dengan pembuatan filosofi logo. Kemudian logo langsung naik cetak.
Ternyata, ketika disosialisasikan kepada Hima dan angkatan atas, perubahan logo Maroon Associate itu menjadi Pro dan Kontra. Logo lama Maroon Associate sudah dipakai sejak PRO angkatan 2003 hingga 2006.
Teman-teman divisi Publikasi dan Dokumentasi sudah merasa pernah membuka wacana kepada senior-senior apakah logo boleh diubah atau tidak. Namun masih blur saja.
Selain Logo dan Bahan Jaket Hima, apa perbedaan PRO’09 dengan PRO’08?
A : Kalau di PRO’08 itu tidak ada fase untuk peserta. Kami ada. Ada tiga fase dalam PRO’09 yaitu fase trainee, inisiasi, dan fase staff.
E : Fungsi ketua umum, ketua I, dan ketua II itu adalah controlling, monitoring, dan evaluating. Ketika ketua lelah dan banyak pikiran, fungsi controlling dan evaluating akan menjadi lemah. Kami punya batas tenaga. Dengan adanya audit internal, kami harap bisa membantu kami. Seperti setelah acara selalu ada evaluasi. Banyak data evaluasi dari temen-temen audit internal. Kami jadi terbantu. Lalu, kebijakan-kebijakan banyak yang harus disesuaikan sama situasi kondisi. Teman-teman audit internal membantu melihat itu. Mereka memberikan pendapat yang fresh karena memang hanya itu jobdesknya, yaitu mengaudit.
Orang-orang di audit internal adalah orang-orang yang dipilih tiga calon ketua umum. Di audit internal dibutuhkan orang yang mampu melihat secara objektif.
Lalu Art. Art ada untuk meringankan tugas koordinator acara. Karena kami melihat lelah sekali rasanya jadi Dami (koordinator divisi Acara PRO’08 –red). Apa-apa Dami. Apa-apa Dami. Di PRO ’09 kemarin juga dibuat berita acara. Insya Allah akan memudahkan membuat LPJ. Berita acara itu lebih ke dokumen yang sifatnya rekaman dari acara yang berlangsung.
Ceritain dong soal Malem Dewa?
A : Malam dimana panitia mempresentasikan konsep PRO. Saat malam dewa, kami memberitahu posisi Dewa dalam Maroon Associate itu sebagai apa. Tugas akhir dari PRO’09 kan proposal campaign. Di situ para Dewa akan mengkritisi proposal. Deg-degan . Persiapannya sangat wow. Handout yang sudah difotocopy hingga ratusan ternyata salah. Revisi detik-detik terakhir. Akhirnya ya, Cuma beberapa orang yang menerima handout karena waktunya sudah tidak sempat lagi.
E : Iya. Setelah kita konsultasi ke angkatan atas itu ternyata ospek jurusan lebih menekankan ranah PR nya. Murni PR. Tidak memakai intergritas. Sedangkan PRO’09 intergritas dengan marketing. Ketika fact finding juga, spoke personnya Eiger itu adalah marketing communication. Secara tidak langsung dia memberikan kasus yang PR tapi ada sedikit ranah marketingnya. Dan itu memang kesalahan kami. Dewa meminta kami untuk mengingatkan teman-teman yang menjadi panitia PRO selanjutnya untuk membuat konsep yang materinya benar-benar ranah PR.
Apakah kalian merasa sudah melakukan PRO’09 ini dengan baik?
E : Goals PRO’09 adalah rasa cinta, kredibilitas, dan solidaritas. Untuk rasa cinta & rasa bangga, teman-teman 2008, banyak yang alhamdulillahnya timbul, terhadap jurusan, terhadap bidang keilmuan, terhadap jaket merahnya. Alhamdulillah itu juga menurun pada saya. Saya menjadi lebih bangga dengan Ilmu Humas itu. Karena terpaan dari senior mengenai ilmu ini menjadi lebih terbuka. Wawasan menjadi semakin luas hingga saya semakin bangga.
Lalu kredibilitas, alhamdulillah teman-teman 2008 banyak yang bilang ternyata ospek jurusan ini tidak seperti ospek-ospek biasa. Ada ilmu. Statement-statement itu diterima teman-teman Dewan Manager yang langsung turun ke mereka . Feedback disampaikan melalu iFacebook seperti ucapan terimakasih untuk ilmu yang didapat. Kita merancang agar Dewan Manager itu tidak hanya bisa marah-marah saja tapi harus memberi tahu bagaimana yang benar. Tidak mengkritisi destruktif tapi membangun.
Sedangkan untuk solidaritas, kami melihatnya ketika stadium general mereka membaur, tidak berdasarkan kelompok. Banyak feedback dari angkatan 2008 bahwa mereka menjadi semakin dekat.
Ya, kami merasa sudah menjalankan PRO’09 dengan baik.
Benar tidak ada yang cinlok?
E : Ada dong pasti. Tanya saja langsung ke oknumnya.
A : Saya cinlok dengan Tesa Bimantoro Setiadi. Hahahahaha… Astagfirullahaldzim. Tidaaaak kok. Siapa yang cinlok. Liat ke depannya saja ya. Masih bluurr. Hahaha. Efwan tuh yang cinlok!
E : Eh, Kalo saya tidak tebar pesona. Saya cenderung dingin. Yang saya pilih sekarang adalah keluarga. Kalau ada yang mau diduakan dengan keluarga saya gapapa. Hahaha…
Tanpa terasa, wawancara berjalan lebih dar 1 jam. Efwan, Ajeng, dan Fifie menutup wawancara dengan satu kebanggan, 2007 telah menjalankan PRO dengan baik. Dengan satu harapan, agar semua ilmu yang didapat di PRO 2009 berguna untuk angkatan 2008. Dan sebuah angan-angan, agar PRO 2010 semakin baik.
Congratulations 2007…!
Interviewed by : FADILLA R. – Media
Photos by : Tesa Bimantoro – Media
Comments are closed.




